Cerita Dewasa : Orgasme Dewi
Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.
Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.
Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.
"Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?" tanyaku.
"Mungkin sekitar 10 menit" jawabnya pasti.
"Gaya apa yang dipakai suami kamu?"
"Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala"
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.
"Kira-kira berapa besar penis suami kamu?"
"Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!" jawabnya bingung.
Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.
"Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?"
Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.
"Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!"
Aku tak dapat menahan senyumku.
"Maksud kamu, 'helm'nya masih nongol?"
"Ya!" Dewipun tersenyum juga.
Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.
"Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!"
"Bagaimana dengan kekerasannya?" tanyaku lagi.
"Keras sekali, Pak, seperti batu!"
Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?
"Kok diam Pak?"
"Aku lagi mikir penyebabnya."
"Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar" terangnya.
Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.
"Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan."
Aku sedikit mengerti maksudnya,
"Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?" tanyaku.
"Ya, betul, kenapa ya Pak?"
Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.
"Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?"
"Oke deh!" sahutnya riang sambil meninggalkan aku.
Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.
Aku kirim SMS kepadanya, "Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?"
5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.
"Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya"
Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,
"Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang & aku suami orang juga"
Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.
"Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?"
Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.
"Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!"
"Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?"
"Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping"
"Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!" jawabku tegas.
"Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!"
Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.
Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, "Belum berhasil, Pak!".
Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.
Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.
"Memang kenapa?"
Tak lama Dewi pun membalasnya.
"Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak."
Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.
"Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak"
Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?"
Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.
Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.
Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,
"Pak." Hanya itu yang keluar dari mulutnya
Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,
"Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?" suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.
"Terserah Bapak deh" jawabnya manja sambil mencubit tanganku.
Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami langsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,
Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,
"Tubuh kamu bagus sekali, Wi!" Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.
Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.
Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,
Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.
"Terima kasih, Pak" ia mencium keningku.
"Saya masih mau lagi" ucapnya serak.
Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.
"Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?" sambil aku mempercepat kocokanku.
"Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!" erangnya.
Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.
Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.
Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan..
Waitress Fast Food Yang Binal
Diposting oleh Registered on the Hell | 21.34 | Perselingkuhan | 0 komentar »Cerita Dewasa : Waitress Fast Food Yang Binal
Satu malem aku nonton sendirian, tentang kiamat yang lagi heboh itu. Setelah filmnya selesai, aku mampir ke satu resto fast food yang buka 24 jam, wah penuh juga sama orang2, ada ABG, Tante2, Oom2 dan sebangsanyalah.
Karena laper aku pesen roti burger dan kopi panas. Saat itu sudah hampir tengah malam, maklum deh aku nonton show yang terakhir. Di counter aku dilayani sama seorang cewek, manis banget deh, payudaranya lumayan menonjol dibalik seragamnya. Di dadanya ada name tagnya, terbaca namanya Mita.
Iseng-iseng aku gangguin ketika dia nanya,
"pake susu gak om".
"Pake susunya Mita bole gak ".
"Enak aja si Oom" sembari tertawa geli.
"Ya enaklah kalo dikasi Mita". Dia hanya tersenyum.
Kemudian aku menikmati roti dan kopi dipojokan. Tidak lama aku duduk dipojokan itu, Mita menghampiriku membawa peralatan pembersih meja. Dia membersihkan meja yang berada disebelahku. Ruangan tempat aku duduk itu berupa lorong sehingga meja disusun jejer berdua, masing2 sisi menempel ke tembok sehingga ada space diantara 2 meja untuk lalulalang.
Karena seragamnya yang mini, ketika Mita membungkuk diatas meja untuk menjangkau sisi meja yang menempel ketembok, roknya sangat terangkat sehingga aku bisa melihat pantatnya. Mulus, putih tapi tidak kelihatan cd-nya, mungkin dia pake g string pikirku. Selesai membersihkan meja, dia beralih ke meja didepanku.
"Kok malem2 gini bebersih meja sih".
"Itu prosedurnya om kalo mo ganti shift".
"O abis ini kamu pulang".
"Iya om, shift ketiga dah standby, jadi kita shift dua kudu membersihkan semua meja.
Memang dimeja lain yang tidak didduduki tamu tampak cewek-cewek dengan rok mininya membersihkan meja, pemandangan indah melihat pantat cewek2 itu.
"Mit, kamu gak pake cd ya", kataku to the point.
"enak aja, ya pakelah om, mo liat".
"Ya kalo mo liat cd nya kamu ya gak disini lah".
"Boleh dimana aja om mau".
"Bener nih".
"siapa takut". sahut Mita.
"Ya udah, aku tunggu sampe kamu selesai jam kerjanya".
Mita berlalu sambil tersenyum. Rupanya resto fast food 24 jam ini bener kata orang, banyak berkumpul cewek2 bispak, sehingga banyak lelaki yang datang kesini bukan untuk ngopi atau makan burger doank, tapi juga untuk berburu cewek bispak. Dan ternyata cewek counternya bispak juga. Seperti Mita yang menggugah hasratku untuk menggeluti tubuh montoknya malam ini.
Selesai kerja, Mita mengenakan pakaiannya yang bukan seragam, biasalah jins ketat dan tanktop ketat juga yang menonjolkan lekak lekuk bodinya yang aduhai.
"Kamu cantik ya Mit, montok lagi".
"Ah si om bisa aja, temen2 Mita juga seksi semuanya".
"Kamu suka jalan sama tamu ya Mit".
"Kalo Mita suka ma tamunya dan tamunya ngajak ya Mita mau juga".
"Wah berarti kamu suka ma aku dong ya. Biasanya jalan kemana Mit".
"Karena sudah tengah malam gini ya cek in ke hotel lah, kemana lagi".
"asyik dong, berapa ronde mainnya".
"Sukanya sih sampe pagi, 2-3 ronde gitu deh".
"Nikmat dong kamu".
"Ya nikmatlah om, kalo enggak nikmat ngapain juga dilakuin. Om ngelakuin juga karena pengen nikmat kan".
"Yoi", jawabku. Mobil meluncur menuju ke rumahku.
"Kamu masih sekolah Mit".
"Gak om, gak ada biaya, abis SMU ya Mita kerjalah disitu. Abis kerjaannya gampang, gak perlu keterampilan khusus, omong-omong kita mau kemana nih Oom". "Kerumahku ya".
"Kerumah?, emangnya Oom gak takut sama yang dirumah".
"Yang dirumahku ya cuma aku, bentar lagi ma kamu".
"O tinggal sendiri toh, mau gak Mita temenin".
"Bener nih Mita mo nemenin aku", agresif banget ni cewek pikirku.
"Mau om, Mita suka kok liat Oom, Oom tipenya Mita banget".
"Emangnya tipenya Mita kaya apa".
"Ya yang kayak Oom lah, ganteng, umur gak ABG, atletis lagi badannya. Suka fitness ya om".
"Ya sekali2". "Yang dua kalinya diranjang ya Oom".
"Kok duakali?"
"Ya sekalinya kan di fitness center, duakalinya ya di ranjang, tul gak".
"Pinter kamu, kamu kan fitnes nya juga diranjang kan, 3 ronde main kan cape juga kaya ikutan fitnes".
"Cape sih om, apalagi kalo bisa terus2an".
"wah kuat banget bisa terus2an".
"Ada juga sih om, tapi gak banyak, umumnya abis keluar ya istirahat dulu, napsu lagi baru main lagi".
"Iya, jadi kamunya bisa istirahat juga".
Akhirnya kita sampai juga ke rumahku. Aku membuka pintu pagar dan pintu garasi, mobil masuk langsung ke garasi. Setelah aku menutup pintu pagar dan pintu garasi, Mita kugandeng masuk ke rumah lewat pintu penghubung antar garasi dan dapur.
"wah rumah om asik ya, minimalis banget. Karena aku tinggal sendiri maka rumahku gak besar, ada ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga, dapur, tempat cuci pakaian ada dihalaman belakang. Halaman belakang didesain agak luas, ada saung dipojok tembok halaman.
"Tu saung buat apa om".
"Ya buat maen lah Mit, asik kan diudara terbuka".
Mita kugandeng menuju ke saung. Disaung ada matrasnya, lampu kunyalakan, redup jadi suasananya temaram. Kelambu yang ada di 3 sisi saung kulepas sehingga bisa menangkal nyamuk mengganggu, masih kusemprot juga dengan obat nyamuk yang harum. Aku menyalakan lilin aroma terapi untuk menambah romantisnya suasana.
"wah om romantis Oom".
"Bisa ja kamu".
Aku mengajak Mita duduk di matras, aku masuk lagi kerumah mengambil minuman kaleng cukup banyak.
Mita berbaring di matras, aku disebelahnya. Kelambu yang menutupi bagian depan saung kuturunkan juga. Aku menelungkup sedang Mita telentang.
"Mit, kamu cantik ya, aku suka ngeliat kamu".
"Makanya om, mau gak Mita temenin tinggal disini".
Aku hanya tersenyum, pelan tapi pasti bibirnya kukecup. Mita kaget karena tindakanku itu, tapi dia segera merangkul leherku dan menyambut ciumanku. Cukup lama kami berciuman, aku mulai meraba toketnya, kuremas pelan. Mita melenguh, "om..." rupanya dia mulai terbakar juga. aku meremas toketnya dengan gemas, bergantian yang kiri dan kanan, sementara itu ciuman masih terus kulakukan. "Om...." Mita makin melenguh.
"Mit, buka ya pakaian kamu".
"Bukain dong", jawabnya manja.
Tanktopnya kulepas, tersembullah payudaranya yang putih dan montok dibalik branya yang terlihat kekecilan sehingga tidak bisa meanampung seluruh payudaranya, pentilnya terlihat besar dan menonjol dari balik branya.
Kuturunkan branya dan dengan segera pentilnya kumainkan dengan jari,
"Om, diemut dong pentil Mita".
Pentilnya yang tegang segera kujilati sambil terus meremas payudaranya yang ranum. Karena branya mengganggu usahaku untuk mengemut pentilnya, segera kaitan bra dipunggungnya kulepas sehingga terbebaslah payudara montok nan menggairahkan itu dari branya. Pentilnya yang kecoklatan sudah mengeras, pertanda Mita juga sudah sangat bernafsu. Kembali pentilnya kujilati dan kemudian kuemut pelan. "Om....", lenguh Mita lagi. Payudaranya terus kuremas gemas, kemudian tanganku menjalar kebawah, memainkan pusarnya. Dia menggeliat kegelian, "Om, geli..." Tanganku terus saja menjelajah kebawah, kancing jinsnya kulepas, ritsluitingnya kuturunkan. Tanganku menyusup kebalik cdnya, jembutnya lumayan lebat, teraba oleh jariku. Karena jinsnya ketat, jariku gak bisa menyusup sampe ke ke area vaginanya. Aku bangkit, kupelorotkan jinsnya, Mita mengangkat pantatnya supaya aku mudah melepaskan jinsnya. Tinggallah g-string yang menutupi vaginanya, bener dugaanku.
"Om dingin", lenguhnya lagi.
"Wah kamu cuma pake g-string, nafsuin banget deh Mit.
"Kalo sudah nafsuin kok Oom masih pakai pakaian lengkap".
Aku segera melepas pakaianku juga. Mita terbelalak melihat penisku yang kepalanya nongol dari atas cdku yang minim.
"Ih, penis Oom gede ya, panjang lagi".
"Emangnya kamu belum pernah lihat yang gede".
"Yang gede sih sering, tapi penis Oom gede banget, wah sampe pagi ni ya Oom". "Iya sayang, sampai kamu terkapar".
"wah nikmatnya, Mita dah pengen ngerasain dimasukan penis gede panjang kayak Oom punya nich".
Aku mulai lagi merangsang Mita, Mita mengangkangkan pahanya ketika jariku mulai mengelus selangkangannya. G-stringnya sudah basah, kayanya lendir vaginanya Mita sudah banjir nih, dah siap banget buat digenjot.
Jariku nyelip kebalik g-stringnya, mulai mengelus vaginanya. Terasa lendir yang membasahi vaginanya, jariku terus menyusup menjelajahi permukaan vaginanya sampai menemukan klitorisnya. Segera klitorisnya kuelus2 dengan jari, ini membuat Mita menggeliat2 saking nafsunya,
"Om, Mita dah pengen dimasukin Oom".
Aku gak perduli dengan lenguhannya, aku terus saja mengilik2 klitorisnya sehingga Mita makin menggelinjang gak karuan. Setelah beberapa lama, kulepas g-stringnya, jembutnya yang lebat melingkari vaginanya, berbentuk segi 3. Aku menelungkup diselangkangannya dan mulai menjilati klitorisnya.
Mita semakin tidak karuan ketika klitorisnya kuemut2.
Gerakannya sangat liar, pertanda nafsunya sudah sangat memuncak.
"Oom, ayo dong dimasukin, Mita dah gak tahan nih, Oom jahat deh, maenin Mita kaya gini". lenguhnya sembari terus menggeliat2.
Penisku terasa keras sekali, sudah siap untuk mengaduk2 Vagina Mita. Cdku kulepaskan.
"Oom dah napsu ya", kata Mita menggodaku.
"Siapa yang gak napsu ngeliat kamu yang merangsang kayak gini", jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang putih ranum dan menggiurkan itu. pentilnya kuplintir2 juga.
Mita berbaring telentang. Paha dikangkangkannya sehingga vaginanya yang berwarna merah kehitaman merekah mengundang penisku untuk segera memasukinya. Aku mengurut penisku yang sudah kencang sambil meraba dan meremasi payudaranya yg sudah mengencang itu. Dia menjadi makin bernapsu ketika aku kembali meraba vaginanya dan mengilik klitorisnya. Dia meraih penisku dan dikocok pelan.
"Om geli, enak", erangnya sambil mempercepat kocokan pada penisku. Kuremasi payudaranya sambil terus mengilik klitorisnya. Vaginanya sudah makin kuyup saking nafsunya.
Dia meraih penisku dan diarahkan ke mulutnya. Dijilatinya seluruh bagian penisku dari ujung kepala sampai ke biji pelirnya, tak lupa dikulum sambil sesekali di sedot dengan kuat.
"Ufffffff enak sekali Mit, terusin isapnya….isap yg kenceng", aku mendesah2.
Karena dia sudah nafsu, dengan kuat disedotnya ujung kepala penisku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingnya. Segera aku memposisikan diriku supaya bisa menjilati dan menghisap vaginanya yg sudah terbuka itu. Ketika aku kembali menjilati klitorisnya dia mengelinjang kenikmatan sambil kepalaku di himpit dengan kedua belah pahanya, agar aku lebih lama menjilati vaginanya. Dengan dua jari, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam vaginanya dan kukocok dengan lembut hingga dia mengerang-erang keenakkan.
Penisku digenggam erat sambil terus menghisap-isap ujung penisku. Cukup lama kami saling isap dan jilat.
Kini aku yang telentang dan Mita yang terlihat sudah sangat benafsu itu berada di antara ke dua pahaku. Dia mengisap dan menggigit kecil ujung penisku hingga aku kelojotan merasakan geli yang luar biasa. Peluh yang membasahi tubuhnya yang sintal semakin menggairahkan.
Segera aja aku menarik kepalanya agar melepaskan penisku dari mulutnya, dan kini dia kurebahkan kembali, lalu aku menghisap pentilnya sebelah kanan sambil pentil yg satunya kumainkan dengan jariku. Dia sangat menikmati permainan ini sambil tangannya mengilik sendiri klitorisnya. Dia mengangkangkan pahanya dengan lebar dan setengah diangkat agar lebih mudah memasukkan jarinya.
"Om,,,,,ayo masukin penis Oom .. Mita udah kepengen nihh.." pintanya sambil mengarahkan penisku ke arah vaginanya. Mita sudah sangat bernafsu, dan sengaja mengangkat pantatnya sehingga seluruh penisku masuk ke dalam vaginanya.
"Accchhhhhh…..", desahnya "beeesar baanget Ooom.... eenaaak.... aacccchhh"
Kedua pahanya dilingkarkan di badanku agar penisku menancap di vaginanya. aku menarik penisku sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat dia mengerang-erang keenakkan, kini dengan ritme yg lebih cepat aku menekan sekuat tenaga hingga mulutnya menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun karena nikmat yang dirasakannya, membuat dia hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan.
Payudaranya yang montok dan putih itu bergerak naik turun seirama dengan kocokan penisku di vaginanya.
"Om……..aaccchhhhh……Mita pengen puass dulu ya" pintanya
Tanpa menunggu jawabanku dia lalu berbalik sehingga berada di atas tubuhku, penisku yang terlepas ketika kami berbalik badan dituntun ke vaginanya, lalu dengan jeritan kecil " Aauuu….." seluruh penisku kini amblas masuk ke dalam vaginanya yg semakin licin itu.
Kini Mita sepenuhnya bebas menguasai penisku, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakannya sambil tangannya meremas kedua payudaranya sendiri. Sebuah pemandangan yang aaahhh, sangat menggairahkan.
Kemudian dia berhenti bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi semula hanya kini dia menggesekkan vaginanya maju mundur sambil terus meremas sendiri payudaranya hingga akhirnya dia mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibir dan mata terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya Mita terkulai di atas tubuhku beberapa saat.
Segera aku meminta agar dia nungging, posisi doggie style adalah posisi kegemaran ku, segera dia nungging sambil membuka lebar pahanya hingga aku dapat melihat dengan jelas Vaginanya yang berjembut lebat. Kini kepala penisku kuarahkannya ke vaginanya, dan dengan sekali dorong, masuklah sebagian penisku ke dalam vaginanya. Mita menjerit kecil. Dia memundurkan pantatnya hingga amblaslah seluruh penisku ke dalam vaginanya.
Dengan kuat aku mendesakkan seluruh penisku dengan irama yang beraturan hingga Mita merasa kegelian lagi. Aku membasahi jari telunjukku dengan ludah dan kubasahi pula lubang pantatnya dengan air ludah. Sambil terus menggoyang penisku, kumasukkan jari telunjukku ke pantatnya hingga seluruh jarinya masuk, sambil kutekan ke bawah hingga merasakan geseran penisku di dalam vaginanya. Mita sangat menikmati permainan ini, berulangkali dia memintaku agar lebih keras lagi goyanganku sambil memaju mundurkan pantatnya.
"uufffgggggghhhhhhhh…. Enak Mit, vaginamu enak banget", erangku.
Aku mempercepat kocokan penisku sambil menekan kuat kuat jariku yg ada di pantatnya. Tak lama lagi, aku mengejang, "Mit aku mo ngecret", dan terasa semburan peju hangat di dalam vaginanya. Penisku berkedut menyemburkan peju berkali2.
Kami berbaring dimatras yang cukup lebar untuk berdua cukup lama. "Kamu punya body bagus Mit", kataku sambil mencium pipinya perlahan. Karena dia masih diam saja maka wajahnya kupegang dan kucium bibirnya dengan perlahan. Dia membalas ciuman itu dengan membuka bibirnya, serta merta aku melumat bibirnya dan memasukkan lidahku. "Emmhh.." desahnya perlahan.
"Kamu suka kan Mit maen ma aku", bisikku di kupingnya. Dia hanya mengangguk. tangan kirinya kuarahkan untuk memegang penisku. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak, penis itu berikut biji pelirnya yang ditutupi jembut lebat. Dia mulai memegang penisku dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jarinya tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O).
"Aakkhh gedee bangeet om.." desahnya dengan suara parau. Kemudian aku mencium telinganya sambil berbisik,
"Kamu kocokin dong.." Dia menuruti permintaanku dan perlahan jarinya meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah, dan dalam relatif singkat penisku tersebut menegang dengan kokohnya di tangannya.
"Emmhh.. akhh.." desahku. Sementara Mita terus mengocok penisku, aku pun dengan nafsunya mengulum bibirnya dan langsung meremas payudaranya yang telah mengeras.
"Akhh enak om." desahnya menggelinjang. Bibirnya kulepas dan mulutku langsung mendekat ke dadanya sambil terus meremas perlahan. pentilnya kuhisap sambil kujilat, payudaranya berganti-ganti kuremas sehingga, "Akhh.uuff.." erangnya keenakan.
Wajahnya sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kirinya terus mengocok penisku yang besar dengan makin cepat, kadang-kadang diremasnya penisku dengan kuat.
"Ooohh..", desahnya, tangan kanannya menekan kepalaku ke dadanya sementara tangan kirinya sudah tidak beraturan mengocok penis besarku.
"Kamu mulus sekali Mit.." bisikku sambil mengusap pahanya. "Ahh om.." dia mendesah dan menggelinjangkan pinggulnya sambil merenggangkan pahanya ketika jari-jariku mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas vaginanya yang ditumbuhi jembut dan menyebarkan aroma yang khas. Kami sama-sama mendesah dan mengerang perlahan.
"Emmhh.." desahnya sambil mengerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Jariku mulai menyentuh belahan vaginanya dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah. Belahan vaginanya sudah terlihat basah dan menjadi licin dan makin menyebarkan aroma yang membuat aku menjadi makin terangsang. Mita sudah melepaskan penisku dan kedua tangannya terkulai lemas meremas kepalaku, kadang-kadang mengusap punggungku. tangan kiriku terus membelai belahan vaginanya, tangan kananku meremas-remas payudaranya, sementara itu mulutku terus menghisap pentilnya yang telah mengeras serta menjilati permukaan payudaranya atau mengulum bibirnya. Kurang lebih 20 menit aku telah merangsang sekujur tubuhnya.
Mita hanya tersenyum puas dan pasrah kuraba dan kuremas. aku pun menciumi seluruh tubuhnya yang mulus menggairahkan itu, bahkan sampai ke punggung pun aku ciumi dengan penuh gairah. Sungguh sensasi luar biasa. aku terus membelai belahan vaginanya tanpa berusaha memasukkan jari tengahku tersebut kedalam vaginanya yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara dia telah dalam posisi rebahan dengan kaki terbuka mengangkang. Aku melihat Mita sudah pasrah dan seluruh badannya bergetar menahan napsu yang berkobar2.
Aku berlutut di depannya yang telah mengangkangkan kakinya sehingga posisi badanku sekarang telah berada di antara kedua kakinya yang mengangkang lebar dan vaginanya yang telah terlihat jelas telah basah. Penisku yang besar telah berada di depan permukaan vaginanya. Dan aku mulai mengarahkan penisku ke vaginanya yang telah terbuka sedikit akibat jari-jariku yang terus membelai belahan vaginanya. Penisku yang besar itu kutempelkan tepat di belahan Vaginanya yang telah basah, secara perlahan masuk ke belahan vaginanya.
"Oohh.. om.. enaakk.. " erangnya. "Teruss digesek dan ditekan om." pintanya.
"Ya sayang.." kataku sambil mulai mempercepat gesekan di belahan vaginanya.
"Tekan teruuss om.." erangnya yang makin lama semakin keenakan. "Enaakk..om.. puasin Mita lagi", desahnya dengan suara yang telah parau.
Posisi kakinya telah mengangkang dengan lebar membuat aku lebih leluasa menggerakkan dan kadang mendorong penisku ke depan sehingga lebih menekan dan menggesek belahan vaginanya. Kulihat vaginanya telah terbelah bibirnya karena tekanan dan gesekan penisku, kepala penisku mulai secara beraturan menyentuh dan mendorong klitorisnya.
"Aahh.. aduuhh.. ennaakk", desahnya sementara tangannya telah berada di belakang punggungku dan sambil menekan pantatku. posisi kepala penisku melewati klitorisnya, mencoba untuk terus menerobos liang vaginanya.
Kepala Mita sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak, sementara mulutnya terbuka mengerang. aku terus melanjutkan aksiku dengan posisi sama seperti sebelumnya. kepala penisku terus kutekan ke vaginanya, tapi kutarik kembali, aku terus memajukan dan menarik pantatku dan makin lama semakin cepat . Kepala penisku terus menekan klitorisnya berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir vaginanya.
"Akhh.. engg.. aakhh" Mita mencengkeram pantatku kuat-kuat dan akibat sundulan kepala penisku,
"Oohh.. Mita..nyampe om.. uuff.. aahh.. enaak.." erangnya kelonjotan dan bergetar seluruh badannya.
Aku merasakan siraman cairan hangat dari dalam vaginanya yang terus mengalir membasahi batang dan kepala penisku, membuat penis itu menjadi mengkilap dan basah.
"Kamuu.. nyampe ya Mit..".
"Eeennakk.. oohh Mita.. puaass", dia terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala penisku di dalam vaginanya .
Ternyata hanya sebatas leher kepala penisku yang terbenam di dalam vaginanya dan terasa terus menggesek dinding vaginanya.
"Teruss.. om.. tekan teruuss.. oohh.. benar enak.. ahh.." dia tersenyum puas melihat aku masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding vaginanya.
"Kamu puass.. Mit. enak.. kan.." senyumku sambil menjilat bibirnya sendiri.
"Enak banget deh om, lebih nikmat dari yang pertama. Om pinter banget deh maenin klitoris dan vagina Mita, gak dimasukin aja Mita bisa nyampe lagi".
"Biar kamuu.. lebih puaas Mit.." kataku sambil terus menghujamkan sepertiga penisku ke dalam liang vaginanya.
Terdengar bunyi, "Sleepp.. ahhkk.. brreet.." rupanya vagina Mita terus semakin basah dan semakin licin untuk penisku yang terjepit di vaginanya. Vaginanya terasa masih sempit. Posisiku sudah menindih badannya. Sementara aku menaik-turunkan pantatku berirama. Penisku yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam vaginanya, sementara gerakannya makin lama semakin lincah karena vaginanya terus mengeluarkan cairan yang membuat penisku terus dapat menerobos masuk vaginanya.
"Aakkhh.. eennak.. teruuss..tekan..om... .. ahh enaaknya nge ntot ma om.." dia kelojotan dihujami penisku walaupun belum semua penisku masuk menembus vaginanya. Dia terus memberikan remasan dipantatku dan kadang menekan pantatku
ke bawah.
"Vagina kamu masih sempit..sayang..oohh..nikmatnya.. vaa.ginaamuu.. enak.. adduuhh penisku..dijepit..aah enak.. haa..mhh.. ennak..".aku terus menekan agar penisku lebih masuk lagi ke dalam vaginanya.
Setelah 2 sampai 3 kali menekan vaginaku ke dalam, pada saat menekan terakhir pantatku memutar ke kiri dua kali dan ke kanan dua kali. Mita sudah tidak sempat lagi bergerak, posisinya hanya mengangkangkan kaki lebar-lebar dan tangannya hanya dapat memegang punggungku dan sekali menjambak rambutku. nafasnya tidak beraturan, yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang. aku telah melakukan gerakan menghujamkan penisku ke dalam vaginanya yang sempit dan basah. Terlihat bibir vaginanya tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan penisku. Tiga puluh menit sudah lewat, keringat telah membasahi badan kami berdua.
"Kamuu berbalik." aku menarik penisku, dan dia mengambil posisi menungging. Bibir vaginanya dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggirannya. Aku mengambil posisi tepat di belakang pantatnya. Setelah lima kali meremas bongkahan pantatnya dengan penuh nafsu, sedikit demi sedikit aku mulai menempelkan kepala penisku dibelahan vaginanya dan terus menggesekkan kepala vagina tersebut ke atas dan ke bawah belahan vaginanya.
"Aahh.. ennaak.. om.." desahnya terpejam. "Nikmatnya penis om..enak..Masukin om.. Mita mau nge ntot.. yang enak..aahhk", dengan sedikit hentakan kepala penisku mulai menerobos masuk ke dalam vaginanya.
Perlahan aku melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin cepat. Penisku sebagian sudah tenggelam di dalam vaginanya.
"Ahhk.. uuff.. enaak..oohhkk.. yaa.. teruus.. haak!" dia mengeram dengan nafas yang memburu, begitu juga aku. aku memegang pinggulnya sambil mendorong penisku yang menghujam semakin dalam.
"Hee.. aakhh.. okh.." nafas nya memburu dengan cepat sementara gerakan penisku di dalam vaginanya terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor vaginanya.
"Akhh..eennak.. giila..aduh....penis om mentook..mmffhh.. yaa terus.." erangnya.
"Mita.. enak.. gilaa.. masuk..semuaa..mmffhh...." aku terus menghujamkan penisku dalam-dalam ke vaginanya. Sementara dia hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala penisku mentok di dinding rahimnya.
"Mita keluarr lagi..aku.. aahk enak.." erangnya terpejam.
Telah 15 menit aku memainkan penisku di dalam vaginanya, keringatku telah menetes ke punggungnya. Mita benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalanya sudah rebah ke matras, sementara tangannya terkulai lemas, rambut telah basah semua dan badannya telah bermandikan keringat.
"Aahk om, Mita.. lemes.. gila.. keluarin om.." pintanya memelas.
"Yaa.. akh yak.. duh.. Mit.. aku keluarin.. huu.. enaak vagina kamu.. aku mau keluarr.. gila! Enaak.. aku mau keluaar.. aahh.. hak.. uuff.. oohk.. kamu hebat Mit.."
aku melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan penisku sampai berbunyi, "Cepaak.. cepakk.." supaya penisku masuk lebih dalam, dia melakukan gerakan liar memutar dan memijat penisku dengan vaginanya.
"Mita juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. om".
"Gila.. aahh.. aku juga..keluaar.. haa.. enak.."
Kami berdua nyampe bareng, terasa sekali semburan keras pejuku yang hangat divaginanya.
Aku tersenyum puas sambil meremas payudaranya dan mencium bibirnya. Dia telah terkulai lemas di matras. aku tetap dalam posisi memeluknya dari belakang sementara penisku yang sudah mengeluarkan peju masih berada di dalam vaginanya, sampe menyusut mengecil dan terlepas. Lemas sekali, tapi nikmat.